Waisak adalah hari raya terpenting dalam agama Buddha, tapi berbeda dari kebanyakan hari raya keagamaan lain yang biasanya memperingati satu peristiwa tunggal, Waisak memperingati tiga peristiwa besar sekaligus — yang menurut tradisi, semuanya terjadi pada hari yang sama, meski di tahun yang berbeda-beda.

Tiga Peristiwa yang Dikenang dalam Trisuci Waisak

Di Indonesia, tiga peristiwa ini disebut Trisuci Waisak:

  1. Kelahiran Pangeran Siddhartha Gautama di Taman Lumbini, diperkirakan terjadi pada tahun 623 Sebelum Masehi.
  2. Pencerahan sempurna (bodhi) yang dicapai Siddhartha Gautama di bawah pohon Bodhi, Bodh Gaya, pada usia 35 tahun, sekitar tahun 588 Sebelum Masehi — momen ketika ia resmi menjadi seorang Buddha.
  3. Wafatnya (Parinibbana atau Maha Parinirvana) Buddha Gautama di usia 80 tahun, di Kusinara.

Ketiganya diyakini terjadi pada tanggal yang sama dalam kalender lunar — saat bulan purnama di bulan Waisak (Vaisakha) — meski jaraknya bertahun-tahun dalam kehidupan Sang Buddha.

Kenapa Tanggalnya Berubah Tiap Tahun

Nama “Waisak” sendiri berasal dari kata Pali “vesākha”, nama bulan keempat dalam kalender India kuno yang diyakini sebagai bulan kelahiran Buddha. Karena mengikuti kalender lunar dan ditentukan berdasarkan bulan purnama, Waisak biasanya jatuh sekitar bulan Mei di tahun-tahun biasa, atau bergeser ke bulan Juni pada tahun-tahun kabisat dalam kalender lunar tersebut.

Sejarah Penyatuan Peringatan Trisuci Waisak

Sebelum tahun 1950, tiga peristiwa dalam kehidupan Buddha ini sebenarnya diperingati secara terpisah di berbagai tradisi Buddhis, dengan penekanan yang berbeda antar wilayah. Dalam tradisi Asia Timur misalnya, hari lahir Buddha kerap dirayakan terpisah dari peringatan pencerahan (Hari Bodhi) dan wafatnya (Hari Nibbana).

Keputusan untuk menyatukan ketiganya menjadi satu perayaan yang dirayakan serentak di seluruh dunia — dan disebut sebagai Waisak — ditetapkan dalam Konferensi Persaudaraan Buddhis Sedunia (World Fellowship of Buddhists) pertama di Sri Lanka pada tahun 1950.

Waisak Sebagai Hari Libur Nasional di Indonesia

Di Indonesia, Waisak resmi menjadi hari libur nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 3 Tahun 1983, dan mulai berlaku sejak perayaan Waisak tahun 2527 (Buddhist Era) atau bertepatan dengan 27 Mei 1983.

Perayaan Waisak di Indonesia sangat identik dengan Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, sebagai pusat rangkaian upacaranya. Beberapa unsur yang jadi ciri khas perayaan Waisak di Indonesia:

  • Pengambilan air suci dari mata air sakral, seperti Umbul Jumprit di Temanggung, sebagai simbol penyucian diri dan lingkungan.
  • Pengambilan api abadi dari Mrapen, Grobogan, melambangkan pencerahan dan semangat yang tak pernah padam.
  • Puja bakti di vihara, disertai meditasi dan pembacaan kitab suci Tripitaka.
  • Prosesi memandikan Buddha — menyiramkan air ke rupang (patung) Buddha sebagai simbol membersihkan pikiran dari hal-hal negatif.

Makna Waisak bagi Kehidupan Sehari-hari

Ketiga peristiwa dalam Trisuci Waisak sebenarnya membentuk satu narasi perjalanan spiritual yang utuh: dari kelahiran sebagai manusia biasa, melalui pencarian panjang dan perjuangan batin, hingga mencapai pencerahan — dan akhirnya, penerimaan terhadap ketidakkekalan lewat kematian.

Pesan yang sering ditekankan dalam peringatan Waisak bukan sekadar mengenang sosok Buddha secara historis, tapi meneladani nilai-nilai yang diajarkannya: welas asih, kebijaksanaan, dan kesadaran penuh terhadap sifat sementara segala sesuatu. Salah satu pesan terakhir yang diyakini disampaikan Buddha menjelang wafatnya adalah peringatan bahwa “segala sesuatu tidak kekal adanya, berjuanglah dengan kewaspadaan” — sebuah pengingat yang terus dibawa umat Buddha di setiap perayaan Waisak, tidak hanya sebagai peristiwa sejarah, tapi sebagai pedoman menjalani hidup dengan lebih sadar.


Sumber