Kalau Anda perhatikan, Tahun Baru Imlek tidak pernah jatuh di tanggal yang sama dua tahun berturut-turut — kadang akhir Januari, kadang pertengahan Februari. Ini bukan ketidaktentuan, melainkan konsekuensi dari sistem kalender yang jauh lebih tua dari kalender Masehi yang kita pakai sehari-hari.
Kalender Lunisolar: Bukan Sekadar Ikut Bulan
Banyak orang mengira kalender Tionghoa murni mengikuti bulan (lunar). Sebenarnya sistemnya lebih rumit: lunisolar, gabungan patokan bulan untuk menentukan panjang tiap bulan, dan patokan matahari untuk menjaga agar kalender tetap selaras dengan musim.
Setiap bulan dalam kalender Tionghoa dimulai dari bulan mati (bulan baru) dan berlangsung sekitar 29 atau 30 hari mengikuti fase bulan. Total 12 bulan biasa jadinya sekitar 354 hari — lebih pendek 11 hari dari kalender Masehi. Kalau dibiarkan begitu saja, dalam 16 tahun kalender ini akan bergeser satu musim penuh dari posisi seharusnya. Untuk mengoreksinya, setiap 2 atau 3 tahun disisipkan satu bulan tambahan yang disebut bulan kabisat (run yue).
Aturan Pasti di Balik Tanggal yang Kelihatannya Acak
Tahun Baru Imlek — atau Chunjie, Festival Musim Semi — selalu jatuh pada bulan baru kedua setelah titik balik matahari musim dingin (winter solstice), yang biasanya terjadi sekitar 21-22 Desember. Aturan ini memastikan Imlek selalu jatuh di sekitar awal musim semi.
Konsekuensi dari aturan itu: Imlek tidak pernah jatuh lebih awal dari 21 Januari, dan tidak pernah lebih lambat dari 20 Februari. Rentang 30 hari ini berulang setiap tahun, membentuk “zona Imlek” yang bisa Anda andalkan meski tanggal persisnya berbeda tiap tahun.
Sebagai contoh konkret tiga tahun terakhir: Imlek 2024 jatuh 10 Februari, Imlek 2025 jatuh 29 Januari, dan Imlek 2026 jatuh 17 Februari.
Malam Sebelum Imlek dan Rangkaian Perayaannya
Malam sebelum Imlek disebut Chúxī, yang secara harfiah berarti “malam penghabisan tahun” — momen sakral berkumpulnya keluarga besar. Perayaan Imlek sendiri tidak berhenti di satu hari saja, melainkan berlangsung selama 15 hari, ditutup dengan Cap Go Meh atau Festival Lentera, yang bertepatan dengan bulan purnama pertama di tahun baru.
Beberapa tradisi yang lekat dengan Imlek: membersihkan rumah sebelum hari-H (melambangkan membuang sial dan menyambut keberuntungan baru), mendominasi dekorasi dengan warna merah, kunjungan silaturahmi ke sanak keluarga (bai nian), atraksi barongsai dan liong, serta pembagian angpau oleh orang yang sudah menikah kepada yang belum menikah.
Di Indonesia, Imlek resmi menjadi hari libur nasional sejak tahun 2002, dan sudah berakulturasi dengan budaya lokal — misalnya festival Cap Go Meh di Singkawang, Kalimantan Barat, yang dirayakan besar-besaran.
Hubungan Imlek dengan Shio
Setiap Tahun Baru Imlek menandai pergantian shio — salah satu dari 12 hewan dalam siklus zodiak Tionghoa (Tikus, Kerbau, Macan, Kelinci, Naga, Ular, Kuda, Kambing, Monyet, Ayam, Anjing, Babi). Karena pergantian tahun terjadi di tanggal Imlek, bukan 1 Januari, banyak orang salah mengira shio mereka berdasarkan tahun Masehi kelahiran — pembahasan lengkap soal kesalahan umum ini ada di artikel Kenapa Shio Anda Mungkin Salah.
Selain siklus 12 shio, ada juga siklus 10 tahun berdasarkan lima elemen (kayu, api, tanah, logam, air), yang berkombinasi dengan 12 shio membentuk siklus 60 tahun penuh yang disebut jiazi atau Ganzhi. Karena itulah usia 60 tahun dianggap pencapaian istimewa dalam tradisi Tionghoa — menandai satu siklus penuh telah selesai dilewati.
Sebagai contoh, Imlek 2026 menandai peralihan dari shio Ular Kayu ke shio Kuda Api — kombinasi shio dan elemen yang hanya berulang setiap 60 tahun sekali.