Setiap 10 Dzulhijjah, umat Islam di seluruh dunia merayakan Idul Adha — hari raya yang juga dikenal sebagai Lebaran Haji atau Hari Raya Kurban. Perayaan ini tidak bisa dilepaskan dari satu kisah yang jadi fondasinya: ujian ketaatan Nabi Ibrahim.

Kisah di Balik Idul Adha

Menurut riwayat yang menjadi rujukan umat Islam, Nabi Ibrahim AS sudah lama menantikan kehadiran seorang putra. Setelah doanya dikabulkan dan lahirlah Nabi Ismail AS, Nabi Ibrahim mendapat perintah dari Allah SWT melalui mimpi — sebuah bentuk wahyu yang diyakini para nabi — untuk menyembelih putra yang begitu dicintainya itu.

Ini menjadi ujian yang sangat berat. Namun ketika Nabi Ibrahim menyampaikan mimpinya kepada Nabi Ismail, sang anak justru menunjukkan kesediaan tanpa keraguan, meminta ayahnya untuk melaksanakan perintah tersebut sebagai bentuk ketaatan kepada Allah.

Ketika prosesi penyembelihan hendak dilaksanakan — setelah Nabi Ibrahim berhasil mengusir godaan setan yang berulang kali membujuknya membatalkan niat, sebuah peristiwa yang kelak menjadi asal-usul ritual lempar jumrah dalam ibadah haji — Allah SWT menghentikan perbuatan itu dan menggantinya dengan seekor domba besar sebagai sembelihan. Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur’an, Surah As-Saffat ayat 107, yang menyebutkan bahwa Allah menebus Nabi Ismail dengan seekor sembelihan yang besar.

Kenapa Disebut Idul Adha dan Idul Qurban

Kata “Adha” berarti kurban, sehingga Idul Adha secara harfiah berarti “kembali berkurban”. Hari raya ini juga dikenal dengan nama Idul Qurban, karena menekankan pada makna pengorbanan itu sendiri — kata “qurban” berasal dari akar kata yang berarti “dekat”, sehingga berkurban dimaknai sebagai cara mendekatkan diri kepada Allah.

Sejak peristiwa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail itu, umat Islam yang mampu dianjurkan menyembelih hewan ternak — kambing, domba, sapi, kerbau, atau unta — setiap 10 Dzulhijjah, dengan sebagian besar dagingnya dibagikan kepada mereka yang membutuhkan.

Hubungan dengan Ibadah Haji

Idul Adha bertepatan dengan puncak rangkaian ibadah haji, khususnya wukuf di Arafah — salah satu rukun haji yang paling penting. Karena itu Idul Adha juga disebut Hari Raya Haji. Bagi umat Islam yang belum berkesempatan menunaikan ibadah haji, berkurban menjadi cara untuk tetap terhubung dengan semangat pengorbanan yang sama, tanpa harus berada di Tanah Suci.

Makna yang Bisa Diambil dari Kisah Ini

Di luar sisi ritualnya, kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail mengandung beberapa nilai yang terus relevan:

  • Ketaatan tanpa syarat. Kesediaan Nabi Ibrahim menjalankan perintah yang secara manusiawi sangat berat menjadi teladan tentang kepatuhan penuh kepada Allah, meski logikanya sulit dipahami.
  • Peran keluarga yang kuat. Baik Nabi Ibrahim sebagai ayah, Nabi Ismail sebagai anak, maupun Siti Hajar sebagai ibu, semuanya menunjukkan kesiapan yang sama dalam menjalankan ujian ini — sebuah gambaran tentang pendidikan keluarga yang dibangun dari komunikasi dan keteladanan, bukan sekadar perintah sepihak.
  • Pengorbanan sebagai bentuk kepedulian sosial. Dua pertiga daging kurban umumnya menjadi hak orang lain, menjadikan ibadah ini juga sarana pemerataan — memastikan momen hari raya bisa dinikmati semua kalangan, termasuk yang kurang mampu.
  • Simbol menundukkan ego. Dalam banyak penjelasan ulama, hewan yang disembelih dimaknai sebagai simbol “penyembelihan” terhadap hawa nafsu, ego, dan kecintaan berlebihan pada dunia — bukan sekadar ritual fisik semata.

Idul Adha, dengan demikian, bukan hanya soal menyembelih hewan ternak setiap tahun, tapi pengingat tahunan tentang apa artinya benar-benar rela berkorban untuk sesuatu yang diyakini lebih besar dari diri sendiri.


Sumber